Pak Ade: Bukti Nyata Guru Olahraga Asik dan Kreatif!

Berangkat dari keinginan kuat Pak Ade untuk menjadi guru olahraga yang asik dan kreatif, Pak Ade mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu guru yang dampingi program BOKS. Simak cerita lengkapnya disini!

“Sejak anak-anak, saya sudah membantu orang tua bekerja serabutan, kadang juga melakukan pekerjaan yang terlalu berat untuk fisik anak-anak. Ya ngamen dari bus ke bus, ya bantu Ibu dagang di kantin sekolah. Sebelum meninggal, Ibu berdoa semoga saya bisa punya pekerjaan yang tidak berat secara fisik mengingat saya punya penyakit asma. Alhamdulillah, doa almarhum Ibu terkabul. Sekarang saya sudah jadi guru,” ujar Pak Ade dengan berbinar-binar.

Pak Ade adalah seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang bertugas di salah satu SD wilayah Jakarta Timur sejak 2016. Selain menjadi guru, ia juga mengemban tugas sebagai koordinator Pramuka dan ekstrakurikuler di sekolah tempat ia mengajar. Serta, merupakan salah satu guru yang membantu implementasi program Build Our Kids Success (BOKS) yang bekerja sama dengan WVI sejak bulan Januari hingga Juni 2023.

Karirnya sebagai pendidik tidak terlepas dari doa almarhum sang Ibu agar kelak ia bisa menjadi seorang guru. Pak Ade bercerita bahwa ia berasal dari keluarga yang secara ekonomi tidak mampu. Masa kanak-kanak yang keras justru mendorongnya untuk memiliki kepedulian di dunia anak-anak.  

“Saya ingin bisa menjadi sosok orang dewasa yang memfasilitasi pengalaman menyenangkan dan bermain untuk anak-anak. Terlebih lagi saya sangat senang bisa terlibat membantu pelaksanaan program BOKS di sekolah saya mengajar. Saya dan tiga guru lainnya di sekolah berterima kasih kepada WVI karena sudah menambahkan ilmu dan kemampuan kami untuk semakin menyelenggarakan pembelajaran yang menyenangkan bagi para siswa,” tambah Pak Ade.

Berkat program BOKS, Pak Ade dapat mengatasi tanta-ngan yang ia alami sebagai guru PJOK dari kelas 1 hingga kelas 6.

“Sebelum mendapat pelatihan modul BOKS, tantngan yang biasa saya hadapi adalah ice breaking atau kegiatan bergerak bagi siswa kurang bervariasi. Sementara saya sebagai guru harus kreatif dalam mengajar agar peserta didik tetap semangat olahraga. Dengan adanya program BOKS sangat membantu menambah banyak variasi ice breaking dan gerakan-gerakan lain yang baru dan inovatif sehingga peserta didik tidak bosan,” ceritanya.

Dengan terlibat dalam program BOKS, Ade menilai bahwa kreativitas sebagai pendidik bertambah khususnya saat mengajar siswa-siswi kelas bawah yang secara tumbuh kembang masih sangat senang bermain. “Mengajari olahraga kepada siswa kelas bawah harus dengan cara bermain supaya menumbuhkan pemahaman kepada mereka bahwa olahraga itu kegiatan yang menyenangkan bukan kegiatan yang sulit atau melelahkan,” ujar Pak Ade.

Manfaat lain dari program BOKS ialah membantu Pak Ade memfasilitasi pelajaran PJOK yang terintegrasi dengan edukasi gizi sebab aktivitas fisik sangat penting ditunjang dengan asupan gizi yang baik. Di dalam modul BOKS, terdapat pemaparan mengenai gizi BOKS setelah sesi aktivitas fisik. Pak Ade bersama dengan tiga guru lainnya memanfaatkan materi gizi BOKS untuk diajarkan ke para siswa dokter kecil (dokcil) setiap Kamis. Siswa-siswi dokcil kemudian mempresentasikan penjelasan materi pola makan sehat bergizi kepada para siswa lain di sekolah.  

Tentu hal tersebut menjadi praktik baik bagi program BOKS ketika para dokcil ini bisa menjadi peer educator yang mendorong sesama siswa-siswi lain untuk memiliki kebiasaan makan sehat atau membawa bekal dari rumah.  

Ferania, dokcil di sekolah tersebut memberikan testimoni positif terhadap materi gizi BOKS, “Terima kasih kepada Wahana Visi Indonesia atas materi BOKS yang menambah ilmu pengetahuan kita tentang gizi seimbang dan pola hidup sehat dengan berolahrga. Gizi BOKS sehat, tubuh kita kuat!”.

Walaupun program BOKS tahun ke-2 telah selesai, Pak Ade mengakui materi yang ada di modul BOKS tetap ia gunakan dan diintegrasikan ke dalam pelajaran PJOK.  

“Program BOKS masih sejalan dengan apa yang ada di pelajaran PJOK sehingga tentu modul BOKS masih saya gunakan,” jelas Pak Ade. Ia juga siap sedia bertugas menginspirasi para guru program BOKS tahun ketiga yang akan diimplementasi selama 2024 mendatang. Ilmu yang telah Pak Ade dapatkan menurutnya perlu dibagikan kembali sehingga bisa mendorong semangat para guru lain dalam menyelenggarakan pembelajaran yang menyenangkan di sekolah.

“Sebagai pendidik yang memang suka sama dunia anak-anak tentu saya senang jika bisa berdampak secara luas, tidak hanya di lingkup tempat saya mengajar, untuk bangun kebiasaan sehat bagi anak-anak Indonesia melalui berbagai kegiatan!” harapnya.

Penulis: Donna Marietha (Koordinator Project BOKS area Jakarta)